karna kebahagian itu diciptakan sendiri, yuk makan, jalan-jalan. gk perlu ribet. cuma bawa ransel. yang penting kuyy!!

Tampilkan postingan dengan label rindu menanti. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rindu menanti. Tampilkan semua postingan
08.15

Karya Mendunia

by , in
   
    Sore itu (26/1) para Kru Savana terlihat sibuk mempersiapkan seluruh kebutuhan yang akan dibawa ke Acara malam apresiasi budaya. Acara yang diadakan oleh Institute Francis Indonesia (IFI) ini dilakukan serentak diseluruh dunia. Salah satunya diadakan dikota Bandung.
   Savana diundang oleh IFI untuk mempresentasikan karya-karyanya. Setelah menyiapkan semuanya, berangkatlah kami ke tempat berlangsungnya acara. Acara tersebut diselenggarakan di pusat kebudayaan prancis jalan purnawarwan atau lebih tepatnya di depan Bandung Electronik Center.
   Disana kami tidak hanya mempresentasikan karya, tapi kami juga membuka Stand untuk mengenalkan buah karya dari Savana. Diantaranya beberapa koran yang terbit dari awal edisi hingga edisi terakhir. Dan juga beberapa Film dokumentar karya Savana dipamerkan disini walaupun hanya trailernya saja.
   Adalah bung Alif Akbar Nugraha atau sering dipanggil Alif yang menjadi pembicara atau yang mempresentasikan karya Savana, dengan dibantu juga oleh Hafizh sebagai operator. Kali ini kami hanya fokus mempresentasikan film dokumentar.
   Alhamdulillah pengunjung yang menyaksikan presentasi kami sangat banyak, bahkan saking banyaknya ada yang berdiri karna tidak kebagian kursi. Panitia hanya menyediakan waktu sekitar sepuluh menit untuk Presentasi. Tepuk tangan penonton menjadi penutup. Tidak hanya dari Indonesia ternyata banyak juga pengunjung yang dari mancanegara. Mungkin wajar karna acara ini diselenggarakan oleh lembaga kebudayaan Prancis.
   Sama halnya ketika di Stand Savana, ada seorang bule berkebangsaan Prancis tertarik datang melihat karya-karya dari Savana. Hafizh memperkenalkan beberapa karya Film dokumentar menggunakan bahasa Inggris yang seadanya. Lucunya ternyata si bule tersebut bisa berbahasa Indonesia bahkan sedikit menguasai bahasa Sunda.
   Tanggapan pengunjung Stand Savana pun beragam. Ada pengunjung Stand seorang mahasiswa yang kebetulan kampus kita tetanggaan. Dia mengungkapkan ingin belajar banyak kepada Savana. Wow.. Sekelas Universitas ingin belajar ke pada kami yang hanya berasal dari Sekolah Tinggi itu sangat luar biasa. Akhirnya kita pun bertukar kontak agar kedepannya bisa kopdar (kopi darat) dan saling sharing. Kami pun disini masih banyak belajar.
   Di Acara ini seluruh karya sangat di Apresiasi, bahkan hal terkecil sekalipun. Tidak hanya presentasi beberapa komunitas. Acara yang dibuka dengan Nonton bareng Film "Human" ini juga diisi dengan seminar dan Diskusi.
    Salah satu pengunjung mengungkapkan "acara ini asik sih, gw baru juga tertarik sama hal-hal yang kaya gini. Untuk kedepannya semoga lebih sering lagi ngadain acara yang kaya gini" tutur Wicak, seorang mahasiswa.
   Tidak hanya pengunjung yang sangat senang dengan acara ini. Para pengisi acara pun demikian. Menurut Nadia "bangga banget bisa hadir diacara ini, bagus banget ya acaranya, malem ide kaya gtu. Kita juga bisa ngembangin diri kita disini" ungkap Nadia yang menjadi salahsatu pengisi acara. Nadia mewakili sekolahnya Pesantren Manbaul Huda yang mempresentasikan bagaimana menjaga lingkungan dari limbah, dia menjelaskan kepada pengunjung gimana caranya mendaur ulang barang-barang yangsudah tidak terpakai agar tidak menjadi limbah. Nadia menambahkan "Semoga acara ini bisa tambah ramai lagi, dan bintang tamunya makin banyak.."
   Kami pun berharap acara ini lebih sering diadakan. Acara yang sangat bermanfaat, dimana menjadi wadah apresiasi bagi kami yang berkarya. Bagi kami, Savana diundang ke Acara ini sangat luar biasa. Itu artinya Savana sudah mulai membumi. Tidak hanya tinggal disatu tempat, tapi mulai melebarkan sayap lebih jauh. Bahkan ke acara seperti ini, yang diadakan serentak diseluruh Dunia. Ini juga sebagai jawaban bahwa Savana sekarang bisa melihat dan bergabung di Dunia luar walaupun hanya dari sebuah Sekolah Tinggi.


Untuk vidio selengkapnya klik disini
10.34

CORETAN HARI BERKESAN BERSAMA SAVANA

by , in
Savana Incorporation
"Langsung naek nih?" Kataku kepada Nawwar.
   "Sok! Jeung si Agus berdua di belakang" jawab Nawwar.
   "Siaaaapp" aku pun langsung naik kebelakang Bak mobil terbuka bersama barang-barang keperluan camping.
   Pagi itu tanggal 29 Oktober, tepatnya hari Sabtu keluarga Savana mengadakan Family Gathering. Famgeth (Family Gathering) tersebut dilaksanakan di Gunung Puntang. Seluruh keluarga Savana akan hadir disana. Kecuali mungkin yang ada halangan tidak bisa hadir kesana.
   Keberangkatan dibagi kepada tiga kloter atau lebih, kloter pertama ada Aku, Agus Mulyadi, Furqan, Nawwar dan Tamimi. Kami berangkat kloter pertama pagi hari karena kami mempawa peralatan dan barang-barang keperluan camping.
   Aku dan Agus Mulyadi atau biasa di panggil Amul (Agus Mulyadi) duduk dibelakang bersama barang. Sedangkan Nawwar, Furqan didepan dan Tamimi menjadi Supirnya. Perjalanan kami pada saat itu terkendala karena masalah banjir di dayeuh kolot. Jadi kami memutuskan mencari jalan lain ke arah Kopo.
   Belum lama diperjalanan, disaat aku menikmati semilir angin sepoi-sepoi ada dua anak sekolah yang ingin menumpang. Kami pun mempersilahkan. Perjalanan pun dilanjutkan. Saat itu masih sekitar pukul sepuluh pagi, matahari terasa terik sekali, langit kelihatan cerah, cuaca lumayan terasa panas.
   "Nuhun aaa..." Teriak dua anak sekolah tadi sesaat mereka turun.
   "Sami - sami kade dijalan" kataku.
   Perjalanan pun dilanjut. Kondisi jalan raya Kopo sayati lumayan macet, ditengah panas teriknya matahari aku mensiasatinya dengan menutup kepalaku dengan Jaket. Amul pun sama menutup kepalanya dengan Sorban yang ia bawa membentuk seperti Ninja atau bisa dibilang seperti mujahid-mujahid di Timur sana.
    Diperjalanan kita juga sambil mencari penjual Gas, beberapa kali kita berhenti ke sebuah warung hingga ke Pom Bensin. Tapi hasilnya nihil. Tak satupun yang menjual Gas, walaupun ada yang menjual Gas tapi stoknya sedang kosong. Kami pun melanjutkan perjalanan. Di daerah Banjaran arah ke Pangalengan akhirnya kita menemukan penjual Gas, walaupun harganya sangat mahal diatas harga resmi. Tapi tak apalah dari pada tak ada sama sekali.
    Di Banjaran kondisi cuaca tiba-tiba mendung, tapi kami positiv tidak akan turun hujan. Perjalanan terus dilanjutkan. Tak berapa lama kami pun menyisikan mobil kembali. Kali ini untuk mengisi Galon air yang kami bawa. Setelah membeli air isi ulang tiba-tiba hujan turun. Kami pun panik.
   Tamimi dan Nawawr lalu bergegas memasang terpal yang tak lain adalah bekas Spanduk dikampus. Aku dan Agus Mulayadi pun masuk kedalam Terpal. Bisa dibilang keadaan kami berdua (Aku dan Amul) seperti domba Garut yang sedang diangkut oleh mobil. Ditambah angin dari depan membawa air masuk kedalam terpal. Aku dan Amul pun basah terkena air. Aku inisiatif untuk membuka baju agar tidak kebasahan. Aku pun hanya memakai celana pendek dan kaos.
   Tidak lama setelah itu mobil kembali berhenti. Ada apalagi fikirku, apakah mobilnya mogok. Tiba-tiba Nawwar dan Furqan turun, kemudian ada dua orang cewek masuk kedalam mobil menggantikan Nawwar dan Furqan. Ternyata mereka berdua adalah Rachmi dan Mayang. Mereka juga membawa seorang anak kecil yang tak lain adalah ponakannya.
    Akhirnya mobilpun kembali melanjutkan perjalanan, Nawwar dan Furqan lanjut menggunakan motor yang Rachmi dan Mayang pakai. Jalanan menuju Puntang nanjak dan berkelok. Tapi sepertinya bisa diatasi oleh Tamimi. Tamimi terlihat handal dalam menyupir, dia seperti supir Pantura. Memang dia berasal dari sana, tepatnya Pamanukan Subang.
   Akhirnya kami pun sampai di gunung Puntang, ternyata disana sudah ada Agus Santoso dan Alif. Hujan pun sudah reda, kamipun menurunkan barang-barang yang ada diatas mobil.
   Setelah barang-barang sudah semua diturunkan, saatnya buat kami memasang Tenda. Disinilah muncul masalah. Kita kekurangan orang untuk memasang tenda. Waktu itu kami memakai tenda Pleton atau tenda yang sering dipakai oleh TNI. Jumlah kami saat itu hanya sembilan orang. Sedangkan setiap sisinya harus ditahan oleh satu orang. Ditambah waktu itu tiang penyangga tenda ada yang patah. Tapi mudah disiasati oleh tamimi.

proses pendirian tenda

   Akhirnya kami bisa memulai proses pendirian tenda. Kami dibantu oleh dua orang mahasiswa sastra Arab Universitas pendidikan Indonesia yang kebetulan adalah temannya Rachmi dan mayang. Dengan semangat dan kerja sama akhirnya tenda pun berdiri.
   Setelah tenda berdiri kamipun memasukkan barang-barang kedalam tenda yang sebelumnya sudah diamparkan beberapa spanduk bekas sebagai alasnya. Aku dan Tamimi bertugas memasang Patok tenda, sedangkan Rachmi dan mayang mempersiapkan dapur umum. Dan sisanya membuat parit disekeliling tenda.

Menggali Parit

   Tak lama dari itu kloter kedua berdatangan. Disana ada Sendi, Adrian dan yang lainnya. Adrian sempat bingung melihat Parit yang dibuat mengelilingi tenda. Menurut dia parit yang dibuat salah dan tak ada gunanya. Akhirnya parit pun dibuat ulang. Kali ini letak parit dipaskan dengan arah jatuhnya air. Parit sendiri berfungsi sebagai jalur air agar tidak banjir didalam tenda.
   Singkatnya setelah kloter tiga datang, kami pun makan bersama. Didalam tenda sudah mulai berkumpul semua keluarga Savana. Ada yang meminum kopi, ada yang sedang menghirup tembakau, ada juga yang sedang asyik ngobrol.
   Tak terasa waktu magrib pun tiba, kami pun melaksanakan sholat magrib berjamaah didalam tenda. Dilanjutkan dengan tadarus Alqur'an yang dipimpin oleh saudara Alif dan diterjemahkan oleh saudari Ell. Setelah itu dibahas makna kandungannya oleh Ustad. Rosihan.
    Disaat santai, Zein mengajak aku berdiskusi bersama beberapa yang lainnya. Diskusi bebas dan santai. Apapun boleh diungkapkan disini. Tapi untuk curhat menurutku bukan waktu yang tepat.
   Disaat kami sedang berdiskusi, saudara alif pun mengintruksi bahwa materi pertama akan dimulai. Kamipun menyudahi dulu diskusi. Dan langsung mengkondisikan tempat duduk membentuk lingkaran. Materi pertama kita ngebahas kilas balik berdirinya Savana. Ada kang Hasan yang menjelaskan latar belakang dan sebab berdirinya Savana. Kang Gilang juga bercerita sedikit sebelum adanya Savana. Ditambah suasana haru ketika bung Nawwar bercerita sambil mengeluarkan airmata. Disana kami benar-benar merasakan perjuangan akan berdirinya Savana.
 
diskusi didalam tenda
   Setelah kilas balik Savana selesai, kemudian dilanjut materi kedua yaitu Re-definisi Savana yang diisi oleh Ustad Rosihan. Singkatnya setelah beres materi dua. Langsung masuk ke materi tiga yaitu evaluasi materi satu dan dua. Disana Ustad Rosihan meminta kita mengeluarkan kertas dan menuliskan kebaikan dan keburukan kita. Kemudia kertas yang berisi kebaikan dibacakan secara acak oleh masing-masing peserta. Sedangkan kertas yang berisi keburukan disimpan. Terus Ustad Rosihan meminta lagi selembar kertas untuk diisi harapan dan apa yang akan kita perbuat untuk Savana kedepan, setelah itu semuanya dikumpulkan.
   Setelah semua Materi beres, tiba waktunya acara api unggun. Aku dan Ale mempersiapkan kayu bakar yang kemudian disusun menjadi api Unggun. Sedikit sulit memang untuk apinya menyala, tapi dengan kesabaran akhirnya api unggun pun menyala. Semua peserta pun berkumpul mengelilingi api unggun.
   Kertas yang berisi keburukan pun kami bakar bersama api unggun. Disana tersedia beberapa jagung yang kemudian kami buat jagung bakar diatas api unggun. Tidak hanya jagung bakar, Rachmi dan mayang pun sudah menyiapkan Cuankie hangat untuk kami.
bakar jagung

   Saat itu pukul setengah empat pagi, suasana disana sangat dingin. Ada yang asik ngobrol dan beberapa sudah ada yang tidur. Aku pun langsung mengambil posisi untuk tidur. Disini lucunya, kami saling berhimpitan dan berdempet-dempetan agar tubuh terasa hangat saat tidur.
   Tak berapa lama kami tidur tiba-tiba Zein membangunkan kami untuk sholat Subuh.
   "Banguunnn! Banguuun! Banguunn!" Teriak Zein sambil memukulkan sarung.
   Alhasil mereka pun langsung bangun, ada yang setengah sadar, ada juga yang masih tetap tidur. Beberapa ada yang mulai berjamaah sholat. Aku pun ikut sholat.
   Setelah Sholat, karena aku masih ngantuk aku melanjutkan tidur bersama beberapa orang juga yang masih ngantuk. Ada juga yang langsung keluar tenda untuk ngobrol-ngobrol.
   Sinar matahari mulai meninggi, dedaunan mulai basah mengeluarkan embun. Hangat mentari mulai mencairkan suasana. Aku pun bergegas untuk keluar tenda. 
acara pagi

   Diluar tenda sudah banyak yang beraktifitas, ada yang foto-foto ada yang jalan-jalan menyusuri gunung Puntang. Aku pun bergegas ke kamar mandi untuk cuci muka.
   Bbrrr.. Sumpah airnya dingin banget, tapi lumayan untuk menyegarkan wajah dan mengumpulkan seluruh nyawa yang masih tertinggal didalam mimpi. Dari luar kamar mandi aku melihat yang lain sudah berkumpul didepan tenda. Musik pun melantun dengan keras. Ustad Rosihan memimpin kegiatan pagi itu.
   Aku pun ikut bergabung bersama mereka. Lagu dari Alan walker menjadi Soundtrack saat itu. Ustad Rosihan mengajak kita teriak sekeras-kerasnya melepas penat yang ada.
   "Aaaaaaaaa!!!"
   "Iiiiiiiiii!!!!"
   "Eeeeee!!!"
   "Aaaaaaaaaaaaa!!!" Semua teriak begitu lepas.
   Akupun merasa semua beban yang ada dihidupku lepas begitu saja. Kemudian lantunan musik kembali bersuara. Kali ini Ustad Rosihan mengajak kami semua untuk bergoyang berjoged ria. Awalnya pada jaim-jaiman, tapi lama kelamaan semua terbawa suasana. Ada tamimi dengan goyangan yang entah apa namanya, Nawwar dengan goyangan yang begitu lepas. Asfi dengan goyangan khasnya. Urat malu pun sepertinya sudah putus, kami semua berjoget ria. Kecuali Amirul yang mungkin malu karena dibarisan sana ada si kekasih hati.
   Seru rasanya bisa melepaskan semua kepenatan. Sehabis itu Rachmi dan mayang menyiapkan sarapan dengan menu Jagung manis rebus tanpa susu. Kami pun sarapan bersama-sama.
   Setelah sarapan kami melanjutkan acara berikutnya. Sebenarnya acara pagi ini akan di isi materi oleh bu Lea, tapi dikarenakan bu Lea tidak bisa hadir acara dilanjutkan dengan Savana membumi. Di Savana membumi ini kami semua membacakan harapan-harapan yang telah kami tulis semalam. Ada yang berharap bisa camping ceria seperti ini sebulan sekali, dan masih banyak lagi.
   Setelah Savana membumi acara dilanjutkan dengan sharing tiap divisi-divisi Savana. Buat Anggota baru Savana (generasi tiga) bebas memilih divisi mana yang menjadi minat masing-masing. Aku memilih divisi Savana Film, bareng dengan Alif. Kemudian ada Savana picture yang beranggotakan Zein, Ell, dan lain-lain. Trus ada juga Savana Design yang pada saat itu tidak ada peminatnya. Ada juga Savana nulis yang banyak sekali anggotanya.
   Selain itu ada divisi Savana yang terbaru, diantaranya bagian pengolah data dan survey yang dipegang oleh Zaim, Savana Muhamad Lovers Movement yang dipegang oleh Asfi dan dengan satu folowersnya Bahroh alias Adrian. Mereka semua dikasih waktu briefing dan sharing sekitar sepuluh menit, kemudian mereka semua mempresentasikan hasilnya perdivisi.
   Banyak program-program menarik yang akan diwacanakan, semoga tidak hanya sekedar wacana. Tapi harus direalisasikan atau lebih tepatnya Savana membumi.
   Setelah itu kami pun foto bersama, disini sangat terlihat kekeluargaannya. Kami semua seperti keluarga. Tidak ada senior dan junior. Yang ada hanya keluarga yang sama-sama saling belajar.
   Disaat kita mau siap-siap untuk pulang, hujan turun dengan deras. Barang-barang yang sudah dikeluarkan kembali dimasukan kedalam tenda. Alas tidur yang terbuat dari bekas spanduk sudah terlanjur kotor terinjak-injak. Kecuali satu yang dipakai tidur oleh Zaim. Dia terlihat nyenyak sekali. Nyaman dengan keadaan, padahal disekitarnya becek dan kotor.
   Yang lainnya ada yang sedang berteduh dimasjid, ada yang didepan kamar mandi. Semuanya menunggu hujan reda.
   Karna dirasa hujan tidak akan reda-reda. Kamipun terpaksa membongkar tenda pada saat hujan masih turun. Sebelumnya para akhwat diungsikan dulu ke warung terdekat bersama barang-barang. Laki-lakinya hujan-hujanan merubuhkan tenda.
   Setelah tenda rubuh, kami pun langsung merapihkannya. Dan menaruhnya kembali ke mobil. Mobil yang dikendarai oleh Tamimi pun langsung menuju warung mengambil barang-barang bawaan.
   Kita semua pun sepakat turun gunung dalam kondisi hujan. Karena sebelumnya kita semua sudah diinstruksikan untuk membawa jas hujan. Mobil pun kembali ditutup dengan terpal. Aku dan Amul naik keatas mobil. Percaya atau enggak baju yang aku kenakan ini sama sekali belum diganti. Dari kering kemudian basah kehujanan kemudian kering lagi lalu basah lagi.
   Dipintu gerbang Ale pun membereskan administrasi. Disana ada kendala sedikit namun berhasil diselesaikan. Kami pun melanjutkan perjalanan. Diatas mobil terbuka, aku dan Amul ngobrol mengenai tulisan. Tapat sekali kita gabung bersama Savana. Karena bagi kita Savana adalah wadah dalam berkarya.
   Disaat yang lainnya langsung menuju Kampus, aku dan rombongan yang ada di mobil menuju rumah Rachmi dan mayang. Disusul oleh Nawwar dan Furqan menggunakan motor.
   Dirumah mereka, kita menurunkan peralatan masak yang memang pinjam dari mereka berdua. Disaat itu Nawwar dan Tamimi ingin beristirahat. Aku, Furqan dan Amul pun ikut istirahat dirumah Rachmi. Aku teringat masih ada beberapa mie instan dan baso di mobil. Akhirnya beberapa mie Instan pun dimasak dirumah Rachmi dan mayang.
   Setelah cukup beristirahat kami pun melanjutkan perjalanan ke Soreang untuk mengembalikan tenda. Perjalanannya lumayan cukup jauh. Kita masuk ke jalan yang sempit, yang hanya bisa dilewati oleh satu mobil.
   Bagiku medannya cukup sulit, lebar jalannyapun sangat sempit. Untung kita punya supir handal asal Pantura. Akhirnya mobil berhasil diparkir didepan rumah pemilik tenda. Kita pun langsung menurunkan Tiang-tiang tenda. Tendanya tidak kita turunkan. Kita pun minta izin membawa tendanya untuk dicuci terlebih dahulu sebelum dikembalikan.
   Setelah ngobrol sebentar dengan pemilik tenda kita pun berpamitan. Perjalanan langsung dilanjutkan menuju Kampus. Dijalanan hatiku sangat was-was karena malamnya aku ada janji untuk menghadiri acara. Adzan Maghrib pun berkumandang, pada saat itu posisi kita masih Taman Kopo Indah. Sepertinya aku sudah pesimis tidak akan keburu.
   Dijalan pun hujan masih setia menemani, baju basahpun sudah tidak aku pikirkan. Yang ada dipikiranku saat itu hanyalah sampai ke Kampus dengan tepat waktu. Akhirnya kita pun sampai di kampus. Aku bergegas mandi, dan langsung menuju Braga saat itu juga. Walaupun pada akhirnya aku telat juga.
   Boleh jujur acara Family Gathering ini sangat berkesan. Sekali lagi kita semua seperti keluarga. Kita semua saling rangkul. Tidak ada rasa gengsi diantara kita. Semua bisa menerima kekurangan masing-masing.
   Aku bangga bisa bergabung bersama kalian. Belajar dan berkembang bersama kalian. Menjadi Mahasiswa Produktif selangkah lebih maju dari pada yang lain. Disini semua karya sangat di apresiasi. Disini semua karya apapun itu sangat dihargai. Tidak ada yang sia-sia. Mungkin diluar sana banyak yang memandang sebelah mata kepada kita. Tapi yakinlah mereka semua hanya sirik kepada kita tanpa tau sebenarnya apa yang kita lakukan. Aku yakin kita semua bisa membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Dan semuanya akan sadar apa yang telah kita lakukan selama ini. Bismillah..


SAVANA, JELAS TEGAS!
09.05

Rindu Menanti

by , in

pic : dokumen ayo bandung
Kamis, 20 Oktober 2016
Siang hari itu matahari terlihat terik dengan sedikit awan, entah kenapa akhir-akhir ini cuaca di Ciganitri terasa panas. Aku sedang sibuk mempersiapkan acara hmj yang rencananya akan dilaksanakan pada malam itu. Pada saat aku ingin ke bawah, aku melihat kumpulan anak-anak Savana sedang berkumpul bersama seorang dosen yang tak asing lagi.

Oh, Aku baru ingat, pada hari itu aku akan ikut agenda bersama mereka. Lebih tepatnya bersama komunitas Rindu menanti.Aku sering mengikuti kegiatan mereka (Rindu menanti) di media sosial, baik Instagram atau twitter. Aku pikir komunitas seperti ini yang sangat diperlukan kota Bandung, bahkan dikota-kota lainnya. Coba kalian bayangkan gimana rasanya menunggu itu? Pasti membosankan bukan? Apalagi menunggu seseorang yang tak pasti hatinya kemana. Loh kok jadi curhat!

Tapi serius yang namanya menunggu itu memBosankan, apalagi menunggu angkutan Kota atau Bis. Komunitas Rindu menanti ini adalah sekumpulan orang-orang yang sepertinya peka akan hal Membosankan itu. Aku sudah lama tertarik dengan kegiatan mereka.

Jam masih menunjukan pukul 12.30. Setelah aku selesaikan semua tugas-tugasku, lalu aku bergegas untuk menunaikan Ibadah Wajib. Setelah menunaikan empat Raka'at Handphoneku tiba-tiba berdering. Ternyata ada pesan Whatsapp di grup dari siDosen yang tak lain adalah Ustad Rosihan. Beliau mengikatkan untuk agenda Rindu menanti jam satu siang.

Aku pun bergegas mempersiapkan. Aku susun buku-buku yang akan aku bawa, kumasukan kedalam tas yang ku pinjam dari seorang teman. Aku pun langsung menuju TKP bersama saudara Alif akbar.
Ketika di tengah perjalanan, awan tiba-tiba menghitam mendung seperti mengingatkan akan datangnya hujan. Kutarik gas motor sekencang-kencangnya­ mengikuti saudara Alif yang sudah jauh didepan. Akhirnya kita sampai di sebuah halte bis dekat metro indah mall, lebih tepatnya dekat showroom mobil Hyundai.

Disana sudah ada Ustad Rosihan menunggu. Dan sepertinya ada saudara Ashfi baru datang. Kemudian kami pun bersalaman, setelah itu kita Briefing sebentar, katanya akan ada mahasiswa dari Unpad yang akan meliput kegiatan Rindu menanti. Setelah di Briefing, akhirnya kita mulai kegiatan. Pertama kita memulainya dengan memungut sampah disekitar Halte, kemudian kita menyusun buku bacaan yang kita bawa.

Rindu menanti itu sendiri adalah suatu gerakan dimana para Penanti (anggota Rindu menanti) melakukan kegiatan-kegiatan positiv. Diantaranya membersihkan halte, menyediakan bahan bacaan untuk para penghuni halte. Dan melayani apabila ada orang yang tersesat atau menanyakan rute angkutan umum.

Menyediakan bahan bacaan bagiku sangat amat bermanfaat. Disaat para penghuni halte merasa bosan menunggu angkutan atau bis. Mereka bisa mengantisipasinya dengan membaca. Memang sih tidak banyak orang yang gemar membaca. Nah disitulah Rindu menanti hadir untuk menyadarkan orang-orang akan pentingnya budaya Membaca.

Tidak lama saat kita membersihkan halte, dateng dua orang mahasiswi berjilbab. Ternyata mereka ini adalah mahasiswa Unpad yang mau meliput kita. Dan disusul pula dengan kedatangan Ratih, Rachmi, mayang yang tak lain adalah anggota Rindu menanti.

Kita pun saling sapa. Mereka berdua (mahasiswa Unpad) kemudian briefing dengan Ustad Rosihan dan Alif tentang peliputan ini. Sementara aku dan Ashfi terus mengumpulkan sampah yang ada disekitar halte.

Mbak-mbak Unpad pun mulai mengambil gambar kegiatan Rindu menanti. Pada saat itu aku disuruh menjadi model (walaupun muka jelek standar) sebagai Penanti yang sedang menunggu halte bersama Ratih. Untungnya aku sudah terbiasa menunggu. Menunggu kamu aja aku bisa apalagi menunggu Bis. Halaaah curhat.

kemudian datang Rachmi, mayang menawarkan buku dan memperkenalkan gerakan Rindu menanti. Seperti itulah kita mendemokannya, walaupun akting kami (lebih khusus saya) sangat pas-pasan.

Disaat itu datanglah empat gadis SMA, beberapa dari kami pun langsung bertindak sesuai dengan misi Rindu menanti, Rachmi mulai menjelaskan apa itu Rindu menanti, ditambah dengan mayang yang menawarkan beberapa Buku. Tiba-tiba ada Zein datang bergabung, lalu Zein tanpa disuruh langsung memunguti sampah yang masih ada disekitar halte. Sementara mahasiswa Unpad masih memotret kegiatan kami. Dengan sesekali mewawancara para Gadis SMA tadi dan beberapa anggota Rindu menanti.

Sungguh ini kegiatan yang anti mainstream. Disaat anak-anak seusia kita nongkrong-nongkrong gak jelas sambil selfie di cafe, disini ada anak-anak yang sangat peduli akan fenomena sosial dikota ini. Mereka menyadarkan betapa pentingnya Membaca, membaca itu sangat mengasyikan, apalagi saat menunggu di Halte. Mereka pun tak sungkan untuk membersihkan dan menjaga kebersihan Halte.

Semoga virus Rindu menanti menyebar kesemua Anak-anak muda di Kota Bandung dan untuk anak- anak muda lainnya. Karna kalo bukan kita siapa lagi?

Tak terasa jam menunjukan pukul setengah tiga sore. Setelah dirasa cukup mengambil kebutuhan gambar liputan, kedua mahasiswa Unpad yang cantik-cantik itu pun berpamitan. Tapi sial aku lupa minta kontaknya.. Huu gagal modus.

Kemudian Rachmi, Mayang dan Ratih pun ikut berpamitan pulang. Di Halte hanya tersisa Aku, Ashfi, Alif, Zein dan ustad Rosihan. Alif dan Ustad Rosihan sedang asyik ngobrol, Ashfi sedang serius membaca buku. Aku dan Zein sedang berdiskusi masalah acara HMJ yang akan dilaksanakan nanti malam.

Tepat jam empat sore kegiatan kami hentikan, tak terasa memang waktunya. Tiba-tiba sudah tiga jam saja kami melayani para orang-orang di Halte. Kami pun saling bersalaman untuk berpamitan. Aku, Zein, Ashfi dan Alif langsung menuju Kampus. Sedangkan Ustad Rosihan melanjutkan perjalannya kembali entah kemana.

Sungguh pengalaman yang sangat mengesankan. Bahagia sekali bisa bergabung bersama Rindu menanti. Ahh rasanya aku ingin sekali memulai kegiatan ini kembali. Kalo bisa aku ingin setiap Halte dikota Bandung ada orang-orang seperti Rindu menanti ini. Agar Halte menjadi tempat yang nyaman tidak selalu membosankan lagi.

Semoga saja seperti itu, berharap kebaikan tidak ada salahnya. Itu doa. Semoga doaku Terkabul. Amiin..
========
Sedikit cerita tentang RM kamis kemarin, semoga ada hikmah yang dapat diambil (:
#rindumenanti #read #share #change #Ayomakmurkanhalte